Home ยป Indonesia Negara Darurat Impor Pangan!
Economy Featured Global News Indonesia National Security News

Indonesia Negara Darurat Impor Pangan!

Dalam 11 tahun terakhir, rakyat Indonesia telah menghabiskan US$84,8 miliar atau setara Rp1,272 triliun untuk hanya berbelanja enam dari sembilan barang kebutuhan pokok/sembako-beras, susu, bawang, garam, daging dan gula dari pasar internasional.

Jumlah uang belanja dapur rakyat yang jumbo ini menyedihkan bila disandingkan dengan sejumlah data betapa Indonesia adalah negara Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Tentrem Kerto Raharjo– kondisi masyarakat dan wilayah yang subur makmur, tertib, tentram, sejahtera, serta berkecukupan segala sesuatunya.

Indonesia adalah negara ke 14 untuk luas daratan (1,811,569 km), negara dengan panjang garis pantai ketiga atas dunia (54,716 km), sebanyak 53% penduduknya adalah usia produktif, buruh murah dan empat musim yang aman dari cuaca ekstrim. Namun, berbagai potensi alam dan manusia itu masih gagal dimanfaatkan untuk tujuan Toto Tentrem Kerto Raharjo.

Selama ini yang banyak diributkan adalah beras. Padahal ada sembilan bahan pokok hidup yakni beras, gula pasir, minyak goreng dan mentega, daging sapi dan ayam, telur ayam, susu, bawang merah & putih, ikan dan garam beryodium. Produksi produk pertanian dalam negeri tidak cukup, memenuhi kenaikan pesat konsumsi makanan, sehingga mendorong impor terus menerus. Enam dari sembilan bahan pokok itu kecukupannya harus dipenuhi dari luar negeri. Yang mengejutkan adalah ketergantungan tinggi pada impor selain beras, dimana rata-rata impor daging selama 11 tahun terakhir mendominasi (35%), gula (28%), garam (14%) dan susu (13%)–ini adalah rasio jumlah impor barang terhadap total nilai impor enam barang itu.

Buah dan sayuran mengandung vitamin, mineral, dan bahan kimia tanaman yang amat penting bagi tubuh manusia, karena mengandung serat. Pola makan yang kaya sayur dan buah dapat menurunkan tekanan darah, mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke, mencegah beberapa jenis kanker, menurunkan risiko masalah mata dan pencernaan, serta berdampak positif pada gula darah. Sayangnya, dengan luas lahan yang ada Indonesia belum bisa memproduksi buah dan sayur-mayur untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Indonesia mencatat defisit perdagangan internasional untuk buah dan sayur mayur rata-rata US$1,3 miliar atau sekitar Rp19 triliun per tahun dalam 11 tahun terakhir, yang terjadi akibat jumlah impor lebih banyak dari ekspor. Tampak kebutuhan akan sayur dan buah meningkat pesat, sementara kemampuan produksi lokal untuk mencukupinya rendah, sehingga neraca ekspor pun tak berkembang dalam kurun waktu itu.

Ketidakmampuan bangsa ini memanfaatkan potensi sumber daya alam, baik lahan luas dan pekerja murah juga tampak pada penyediaan kebutuhan sekunder pangan lain. Misalnya, gandum yang merupakan ingredient pokok bagi produk turunan makanan. Survei Departemen Pertanian Amerika Serikat menyebut lebih dari dua pertiga gandum diperuntukan untuk makanan manusia, sementara 20% sisanya untuk hewan. Ada pertumbuhan konsumsi gandum sebesar 25% dalam 15 tahun, menunjukkan betapa pentingnya gandum bagi manusia. Sayangnya keterbatasan kualitas lahan Indonesia karena diduga tidak memadai untuk menanam gandum membuat Indonesia sangat bergantung pada negara lain. Penikmat roti dan segala macamnya sangat tergantung pada produksi gandum di Negeri Paman Sam dan Kanada.

Tempe dan tahu sebagai makanan paling populer di masyarakat menengah ke bawah, dan bahkan di endorse oleh Presiden Soekarno dan juga kini Presiden Joko Widodo-yakni sebagai penganan favorit-rupanya membutuhkan negara lain untuk mencukupi kebutuhannya di dalam negeri. Kedua panganan itu berbahan baku kedelai, dimana Kementerian Pertanian menyatakan produksi kedelai dalam negeri hanya mampu menutupi tak sampai 10% dari total kebutuhan nasional pada 2022. Estimasi tahun lalu produksi lokal hanya 200.315 ton, sementara kebutuhan 2.983.511 ton .

Beras adalah komoditas pangan utama, sekaligus komoditas politis. Ketersediaannya selalu bikin gaduh ruang publik, meskipun hal ini memang wajar karena banyak yang tidak terima dengan luas daratan, yang cocok untuk pertanian padi, dan buruh murah namun produksi padi loyo. Produktivitas tanaman padi Indonesia masih jauh dari ideal, akibatnya cadangan stok beras nasional sangat bergantung pada produksi di empat negara, India, Thailand, Vietnam dan Pakistan.

Hal yang sama juga terjadi pada jagung. Sebagai bahan baku industri, jagung dapat diolah menghasilkan pakan ternak, minyak, tepung jagung, gula dan turunannya. Perkembangan energi hijau juga menempatkan jagung sebagai bahan baku produksi etanol untuk bahan bakar (biofuel). Situasinya, Indonesia sudah bertahun-tahun defisit jagung. Analisis kinerja perdagangan jagung Indonesia tahun 2020 dari Kementerian Pertanian menunjukkan, Indonesia hanya bergantung pada impor jagung pipilan kering sebesar 2,90% (IDR) dan nilai SSR sebesar 97,31%. Ini menunjukkan, Indonesia sudah bisa mencukupi kebutuhan jagung dalam negeri dengan proporsi yang cukup besar dari produksi sendiri. Tapi, jagung bentuk pipilan kering Indonesia belum memiliki keunggulan komparatif.

Ketergantungan tinggi kebutuhan barang pokok, serta komoditas penunjang lainnya membuat fundamental ekonomi Indonesia rentan terhadap gejolak apapun yang terjadi di luar negeri, khususnya pada indikator inflasi. Kejadian perang Rusia-Ukraina misalnya telah membuat harga gandum melonjak, sementara cuaca buruk di India dan dan Thailand akan berdampak pada kenaikan harga beras. Merujuk pada data inflasi makanan dalam 41 bulan terakhir, Indonesia mengalami rata-rata kenaikan inflasi harga makanan 2,39% (inflasi kalender/year to date) per bulan dengan lonjakan tertinggi pada Juli 2022 mencapai 8%, di atas inflasi umum. Pergerakan inflasi 2022 juga membuktikan bagaimana krisis global, seperti keamanan yang dipicu oleh perang Rusia-Ukraina langsung memberikan dampak signifikan pada inflasi di Indonesia.

Kerentanan ketahanan pangan Indonesia dari gejolak krisis pangan dunia cukup besar, tampak pada besaran impor mayoritas sembako. Juga tampak dalam empat komoditas utama seperti beras, gandum, jagung dan kedelai yang dipublikasikan oleh The Food Security Portal. Semakin mahalnya harga-harga kebutuhan pangan di pasar internasional membuat ada konsekuensi serius terhadap fundamental ekonomi nasional. Salah satunya adalah beban berat bagi pengeluaran rumah tangga di Indonesia, yang semakin kesini semakin terbebani oleh inflasi harga pangan.

Berdasarkan data BPS 2022, rata-rata pengeluaran per kapita penduduk Indonesia sebesar Rp1,33 juta, dimana porsi untuk makanan mendominasi diantara pengeluaran lainnya, yakin makanan Rp666 ribu (50,1%) dan non makanan Rp662 ribu (49,9%). Tahun lalu untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, porsi pengeluaran makanan melampaui non makanan setiap bulannya, membuat tekanan terhadap inflasi makin besar.

Level Ketahanan Pangan Indonesia

Economist Impact, lembaga riset think-tank di Eropa yang memberi nasehat ekonomi Komisi Eropa menerbitkan sebuah indikator yang cukup baik untuk mengukur ketahanan pangan sebuah negara. Mereka sudah bercokol sejak 75 tahun lalu dan menganalisis 205 negara untuk menelurkan The Global Food Security Index. Index ini mengukur ketahanan pangan setiap negara dan membandingkannya secara relatif berdasarkan empat kategori penilaian yang dirangkum menjadi skor dan rating.

Pertama Affordability, yakni ukuran yang menggambarkan kemampuan masyarakat membeli makanan dan kerentanan terhadap kenaikan harga. Kedua Availability, mengukur produksi dan kapasitas pertanian, risiko gangguan rantai pasokan, dan upaya penelitian di bidang pertanian. Ketiga, Quality and Safety, mengukur variasi dan kualitas rata-rata gizi serta keamanan makanan. Keempat, Sustainability and Adaptationyaitu menilai keterpaparan suatu negara akibat dampak perubahan iklim; kerentanannya terhadap risiko sumber daya alam; dan bagaimana negara mampu beradaptasi dengan risiko-risiko ini.

Di Asia dan Pasifik, Indonesia menempati urutan ke-10 dengan skor total 67.9-cara membaca indeks ini semakin besar dalam 100 semakin bagus ketahanannya. Dari empat indikator, tampak ada tiga indikator yang masih kurang memuaskan, yakni Availabilityatau akses pangan (50.9), Quality and Safety atau level kualitas dan keamanan pangan (56.2) dan Sustainability and Adaptationatau isu keberlanjutan dan adaptasi perubahan iklim (46.3). Artinya, titik paling lemah bagi Indonesia dalam hal pangan adalah mengantisipasi perubahan iklim terhadap ketahanan pangan nasional. DI level dunia, Indonesia menempati posisi 63 dari 113 negara.

Rekomendasi dan Saran

Persoalan pangan Indonesia semakin kronis dari tahun ke tahun. Bila dibedah, hal ini terjadi akibat masalah struktural-fundamental sehingga gejolak harga pangan di pasar internasional langsung berdampak pada ketahanan pangan nasional. Kondisi buruk sektor pertanian misalnya dapat digambarkan oleh kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang semakin menurun. Saat ini, porsi pertanian terhadap PDB hanya 11,77% pada kuartal I 2023, terendah dalam satu dekade terakhir, dan sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi hanya 0,04% pada kuartal pertama tahun ini.

Pembenahan sektor pertanian cukup kompleks, diantaranya masalah luas lahan yang semakin menciut, politik anggaran terhadap sektor pemangku pertanian, yakni Kementerian Pertanian yang rendah, hingga pendekatan teknologi yang minim dan kualitas sumberdaya manusia yang rendah. Dua institusi penting yakni Kementan dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tampak kurang maksimal memainkan perannya terhadap sektor pertanian. Padahal serapan sektor pertanian bagi lapangan pekerjaan paling tinggi, mencapai sekitar 30%.

Analisis ini akan menjadi bahan pemantik diskusi dalam program talkshow mingguan politik-ekonomi Your Money Your Votedi CNBC Indonesia TV pada Rabu 5 Juli 2023 pukul 19.30 WIB. Akan menghadirkan narasumber yang berkompeten untuk mengulas dan menemukan solusi, diantaranya Ukay Karyadi (Komisioner KPPU), I Gusti Ketut Astawa (Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas), Bayu Krisnamurthi (Wakil Menteri Pertanian 2009-2011), Dwi Andreas Santosa (Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia/AB2TI), dan Muhammad Ma’ruf (Head of CNBC Indonesia Research). Saksikan hanya di CNBC Indonesia TV channel UHF 40 atau live streaming di www.cnbcindonesia.com/tv.

Sumber : CNBC

Translate