Home ยป Pakar Unwahas: Ketahanan Pangan Indonesia Belum Maksimal
Agriculture Economy Food & Drinks Indonesia News

Pakar Unwahas: Ketahanan Pangan Indonesia Belum Maksimal


Dosen Universitas Wahid Haysim (Unwahas) Semarang, Dr. Nugroho Widiasmadi mengaku, berdasarkan laporan Global Food Security Index (GFSI) tahun 2022 menyatakan ketahanan pangan Indonesia masih belum maksimal, dengan indeks hanya mencapai 60,2 yang berarti kalah dari beberapa negara tetangga.

Bahkan, saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan lapangan yang fokus pada ketahanan pangan di Desa Ciasem Girang, Ciasem, Subang, Jawa Barat, menyatakan masalah ketahanan pangan adalah isu yang sangat nyata dan memerlukan perhatian serius.

Menurut Dr. Nugroho, masalah utama ketahanan pangan adalah ketersediaan pasokan dan kualitas nutrisi. “Lonjakan impor beras tahun ini yang mencapai 3,5 juta ton menunjukkan bahwa ketahanan pangan harus dibangun di atas fondasi yang lebih kuat,” ucap dia dalam keterangannya, Sabtu (4/11/2023).

Dia menyebut, ketergantungan pada impor pangan, terutama dari beberapa negara sumber impor, membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga dan perubahan iklim seperti El Nino.

Untuk menghindari situasi yang terus berulang, sebut dia, Indonesia harus berupaya pada pembangunan ketahanan pangan yang berbasis kemandirian.

“Ini mencakup mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan kemampuan produksi pangan dalam negeri yang beragam,” jelas pria yang menjadi peraih Kalpataru 2023 dari dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Dengan adanya inovasi teknologi Biosoildam MA-11 yang diciptakannya, maka akan menjadi pendorong perubahan positif dalam pertanian di Indonesia. Lalu, lanjut dia, teknologi ini merupakan langkah menuju pertanian yang berkelanjutan, menggantikan metode kimia konvensional dengan praktik organik yang berkelanjutan.

Dia menambahkan, teknologi ini tidak hanya meningkatkan produktivitas pertanian dan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia berbahaya.

“Bisa juga mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan yang tahan hadapi iklim ekstrem seperti El Nino dan La Nina, baik kekeringan, hujan badai, serta banjir, karena dinding selnya lebih tebal,” pungkas dia.

Sumber : Kompas.com

Translate