Home » Sastra dan Pendewasaan Etos Politik Pemuda Indonesia
Indonesia News Politics

Sastra dan Pendewasaan Etos Politik Pemuda Indonesia


Mengingat kekhawatiran seputar politik Indonesia, terutama potensi kebangkitan kembali politik patronase belakangan ini, generasi muda perlu diyakinkan agar tidak apatis dan harus terlibat dalam proses politik.

Sehari setelah HUT Ke-40 Sumpah Pemuda Indonesia, Soe Hok Gie berpuisi tentang mimpi utopisnya—sebuah dunia tanpa kemunafikan, perang, dan pembunuhan atas nama apa pun. Di dunia itu politisi PBB melupakan sejenak diskriminasi dan oposisi karena sibuk mengurus anak-anak lapar dan kemiskinan.

Puisi berjudul ”Cita-cita” ini diakhiri demikian: ”Tuhan, saya mimpi tentang dunia tadi/Yang tak pernah akan datang/…”.

Gie benar. Ia tak pernah melihat dunia impiannya karena setahun kemudian aktivis demonstran masa Orde Lama ini berpulang sehari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-27. Sampai sekarang pun dunia yang dikhayalkan Gie 55 tahun lalu tak kunjung datang. Perang terus berkecamuk di mana-mana. Kemiskinan, perusakan alam, dan dehumanisasi makin mendahsyat.

Arsitek puisi Indonesia modern, Chairil Anwar, yang juga wafat saat berusia 27 tahun, mewakili kegelisahan pemuda Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Chairil, seperti Gie, memberontak. Ia ingin melepaskan diri dari kendala masa lalu dan merangkul pandangan yang lebih kontemporer dan kosmopolitan. Tak jarang ia mempertanyakan pelbagai nilai dan norma yang membelenggu.

Agar sajak ”Aku” oleh pemerintah kolonial Jepang tidak terdengar provokatif dan megalomaniak, puisi ini diterbitkan dengan judul ”Semangat”. Sejumlah puisi Chairil dapat membakar semangat kaum muda, tetapi kekecewaan sang penyair tidak dapat disembunyikan. Salah satunya terungkap lewat sajak ”Hukum”. Dikisahkan para veteran telantar, alih-alih dikenang jasanya seperti yang dijanjikan saat mereka direkrut sebagai perwira muda.

Soe Hok Gie dan Chairil Anwar hanya dua contoh penulis yang mati muda, getir, dan galau terhadap hidup, tetapi karya mereka tak pernah mati bahkan meninggalkan percik-percik gagasan yang tetap relevan jika direfleksikan oleh kaum muda sekarang. Meskipun perhatian dan minat tiap generasi berbeda, selalu ada ruang untuk pembelajaran antarangkatan. Tema seputar pencarian jati diri, pemberontakan, dampak perubahan sosial, dan dinamika politik selalu memberikan wawasan dan perspektif penting bagi setiap generasi.

Pengalaman eksistensial Gie dan Chairil berakhir ketika mereka seusia dengan orang muda yang saat ini berada di rentang umur milenial dan generasi Z. Kelompok usia ini paling paham teknologi dan saling terhubung, Bukanlah suatu kebetulan kalau kedua pujangga kita ini memiliki kemiripan tertentu dengan kaum muda sekarang dalam hal kepedulian terhadap keadilan sosial, keberagaman, dan inklusi.

Sebagian besar mungkin kurang berminat pada masalah politik. Mereka lebih terpikat pada pencapaian individu lewat kewirausahaan atau profesi lainnya. Perbedaan-perbedaan yang ada harus disambut baik karena kaum muda berpeluang untuk menciptakan masyarakat yang lebih demokratis, akuntabel, dan adil. Kabar baiknya, generasi sekarang memiliki perhatian pula pada masalah lingkungan, kesehatan mental, dan dampak teknologi digital.

Pada Pilpres 2024, kaum milenial dan generasi Z akan mendominasi. Generasi muda Indonesia membutuhkan tuntunan untuk menavigasi lanskap politik yang semakin kompleks. Kesenjangan antargenerasi dalam perspektif politik perlu diperhatikan karena pemilih muda mempunyai prioritas dan nilai yang kadang berbeda dibandingkan dengan generasi yang lebih tua.

Mengingat kekhawatiran seputar politik Indonesia, terutama potensi kebangkitan kembali politik patronase belakangan ini, generasi muda perlu diyakinkan agar tidak apatis dan harus terlibat dalam proses politik. Pendidikan kewarganegaraan di berbagai sekolah dan perguruan tinggi perlu digencarkan untuk pendewasaan etos politik. Kaum muda harus melek informasi tentang sistem politik, hak pilih, dan pentingnya partisipasi mereka.

Platform media digital dan sosial berperan penting dalam membentuk pandangan politik pemilih pemula (Matthes, 2022). Informasi, ruang, dan peluang untuk aktivisme dan keterlibatan menjadi lebih mudah diakses. Pelbagai isu yang sedang menjadi tren di kalangan generasi muda dapat dengan cepat disebarluaskan. Aktivisme politik di kalangan generasi muda, termasuk protes, advokasi, dan kerja relawan menjadi lebih efektif dan efisien.

Sastra dapat mengajarkan kaum muda menanggapi isu-isu kesenjangan ekonomi, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan. Gagasan tentang pentingnya praktik dan kebijakan berkelanjutan dibentangkan lewat sastra lingkungan hidup yang banyak bermunculan akhir-akhir ini.

Kaum milenial dan generasi Z hendaknya menjadi lebih piawai dan waspada terhadap gelojoh hoaks dan berita bohong. Sembari berselancar di media sosial generasi muda diharapkan melakukan aktivisme damai tanpa kekerasan dan kegaduhan untuk membawa perubahan positif. Literasi digital harus gayut dengan literasi politik.

Storytelling is a threat,” ujar novelis Nigeria, Chinua Achebe. Pendongeng, penyair, dan sastrawan pada umumnya selalu menemukan cara untuk menghadapi tirani, terutama ketika suara mereka menjadi ancaman tetapi sekaligus membahayakan diri sendiri. Tanpa menggurui, sastrawan menguak kelindan sastra dan politik (entah ”baik” entah ”buruk”) dengan keindahan. Sastra menampung pendidikan politik dengan menggarap tema keadilan, kepemimpinan moral, patriotisme, dan perilaku positif lainnya.

Tetralogi Buru, Ronggeng Dukuh Paruk, Para Priyayi, untuk menyebut tiga saja, mengkaji dampak perubahan politik sepanjang perjalanan sejarah Indonesia dengan mengeksplorasi dinamika kekuasaan dalam komunitas lokal, termasuk bahaya otoritarianisme. Kisah tentang pengkhianatan–diikuti kedua anak kandungnya yakni kekerasan dan balas dendam–tergambar jelas dalam, misalnya, cerpen Mochtar Lubis, Kuli Kontrak, dan Tukang Cukur karya Budi Darma, serta novel Sindhunata, Putri Cina.

Sastra dapat mengajarkan kaum muda menanggapi isu-isu kesenjangan ekonomi, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan. Gagasan tentang pentingnya praktik dan kebijakan berkelanjutan dibentangkan lewat sastra lingkungan hidup yang banyak bermunculan akhir-akhir ini.

Sastra dapat mengingatkan orang muda bahwa mereka mempunyai kekuatan untuk memengaruhi arah dan kebijakan negara.

Bacaan baik dapat menginspirasi pemilih muda untuk berpikir tentang peran mereka dalam membangun masa depan politik yang bermartabat. Sastra mengajak pembaca merenungkan perubahan dan perkembangan politik dan masyarakat serta hubungannya dengan sejarah bangsa. Dilema etika yang dihadapi tokoh-tokoh dalam cerita membantu kaum muda berefleksi tentang kehidupan nyata, termasuk pilihan politik.

Sastra dapat mengingatkan orang muda bahwa mereka mempunyai kekuatan untuk memengaruhi arah dan kebijakan negara. Hikmah yang diambil dari tokoh-tokoh dalam karya sastra dapat mendorong generasi muda untuk menolak politik yang memecah belah guna menuju masyarakat yang lebih inklusif dan harmonis.

Zaman berubah tetapi sastra abadi. Pembaca sastra yang kritis hendaknya berubah menjadi lebih arif. Generasi muda yang arif akan membuktikan bahwa Indonesia suatu hari akan menjadi sebuah miniatur dunia yang dicita-citakan Gie.

Sumber : Kompas.id

Translate